Senin, 09 April 2012

Hidup Perasaan!

Poros kata
Perasaan,
Apa itu perasaan? buat saya itu termasuk sesuatu yang abstrak, tak berwujud, tapi vital. Kadang kita bisa dengan mudahnya mengatur perilaku dan pola pikir kita, tapi lain halnya dengan perasaan. Buat saya dia termasuk sosok yang pendiriannya kuat dan punya prinsip. Saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan, maka perasaanlah yang lebih dulu memiliki keputusan mengambil pilihan yang mana, sedangkan realisasinya nanti kita akan mengambil pilihan yang sesuai dengan perasaan atau bahkan bertentangan dengan yang kita rasakan. Terkadang pedih memang.

Kenapa saya menulis tentang perasaan? mungkin sekarang perasaan saya yang meminta saya menulis tentang perasaan. Entah kenapa, mungkin saya merasa ada banyak sekali fenomena 'perasaan' yang ada di sekitar saya. Mulai dari perasaan suka yang sulit menemukan keberlanjutan perasaan dari lawan jenisnya, perasaan benci yang ditahan agar tidak menyinggung perasaan orang lain, sampai yang paling tragis adalah korban perasaan. Lalu saya termasuk yang mana? kalau ada pilihan tidak perlu menjawab maka saya akan mengambil pilihan tersebut walaupun perasaan saya ingin sekali menjawabnya!

Nah itu, terkadang ingin sekali rasanya perasaan itu diungkapkan, tapi tak semua perasaan perlu diikrarkan, ada perasaan-perasaan yang lebih baik disimpan, untuk diungkapkan pada waktu yang tepat :)

*Perasaan gua tadinya mu nulis tentang hal yang lebih serius, tapi kenapa jadi tentang perasaan?? Ah mungkin cuma perasaan gua aja


Kamis, 29 Maret 2012

Unjuk gigi

Poros kata
We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future - Franklin D. Roosevelt

Apa itu unjuk rasa?
Unjuk rasa yang lebih dikenal sebagai aksi demonstrasi merupakan sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok (Wikipedia).

Sah-sah saja menurut saya jika suatu kelompok melakukan unjuk rasa atas ketidakpuasan yang mereka rasakan akibat kebijakan atau suatu keputusan yang dianggap merugikan. Yang menjadi poin penting dalam hal ini adalah 'Seberapa efektif unjuk rasa yang mereka lakukan dalam mengatasi permasalahan yang ada?'. Unjuk rasa yang terjadi di Indonesia yang sebagian besar dilakukan oleh kalangan mahasiswa menimbulkan keunikan tersendiri. Mereka (kalangan mahasiswa) merupakan sosok kaum terpelajar yang sering disebut sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, kerapkali 'keasyikan' dalam menyampaikan aspirasinya sehingga tak sedikit unjuk rasa tersebut harus mengorbankan ketertiban umum bahkan nyawa. Tentu kita sepakat hal inilah yang harus dihindari!

Memang ada banyak tokoh pemuda yang memang dikenal sebagai seorang demonstran, salah satunya adalah Soe Hok Gie. Seorang pemuda yang pada zamannya merupakan salah satu penggiat dan pelopor (boleh saya katakan) munculnya aksi-aksi besar mahasiswa dalam mengkritisi pemerintahan yang ada.
Salah satu pandangannya tentang demonstrasi: "Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran."

Itu sepenggal cerita dari Soe Hok Gie pada masa pemerintahan Soekarno. Lalu bagaimana di zaman sekarang? Tentu jelas peran seorang mahasiswa menjadi lebih luas, peran pemuda di zaman ini tidak lagi berperan dalam skala Indonesia saja. Pemuda Indonesia saat ini harus berpikir dan bertindak global! Zaman telah berubah! Kalau hanya berpikir dan bertindak biasa-biasa saja yang ada bangsa ini akan semakin tertinggal, jauh tertinggal. Indonesia dapat dipandang oleh dunia melalui pemudanya. Indonesia dapat menjadi negara besar melalui pemudanya. Indonesia dapat menjadi negara sejahtera melalui peran nyata pemudanya!

Jadi jangan hanya unjuk rasa, sudah waktunya pemuda-pemuda Indonesia melakukan unjuk gigi dengan peran dan kontribusi nyata walaupun hanya melakukan hal-hal kecil.

Salam unjuk gigi!



Minggu, 11 Maret 2012

Poros kata
Untuk seluruh kawan saya di kepengurusan BEM FEM IPB Kabinet Progresif.

Akhir-akhir ini ada sedikit kekhawatiran yang melanda hati saya..

Perencanaan yang matang menurut saya adalah kunci dalam melaksanakan suatu kegiatan. Jika rencana kegiatan kita sudah jelas mulai dari bebet bibit bobotnya, pada pelaksanaannya nanti kegiatan tersebut tidak akan jauh berbeda dari apa yang direncanakan. Bina Desa FEM, khususnya kegiatan FEM Mengajar hanya tinggal beberapa hari lagi, berbagai konsep telah dirancang sedemikian rupa agar bisa berjalan dengan baik. Ini merupakan langkah pertama saya dalam suatu organisasi di lingkungan kampus.

Tidak banyak yang saya harapkan, hanya sedikit keinginan dalam hati saya: semoga kegiatan ini benar-benar bisa memberikan manfaat, untuk semua orang yang terlibat dan khususnya untuk saya pribadi. Amin

Semangat teman-teman! Kita baru bergerak beberapa langkah saja.

Tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini
Dan tak usah kita pikirkan ujung perjalanan ini

Sahabat Sejati-Sheila on 7

Jumat, 10 Juni 2011

Poros kata
Ini bukan salah siapa-siapa
Engkau pun tak sedikit pun salah
Ini sudah digoreskan oleh-Nya
Engkau pun tak tahu akan jadi kelabu buatku

Keadaan yang telah menolakku
Mungkin untuk yang kali ini pun akan sama kelabu

Keburukan menjadi rutinitas

Poros kata
Setiap orang secara alami gua rasa dapat membedakan hal yang baik dan hal yang buruk, mereka tahu betul apa artinya baik dan apa artinya buruk. Tapi masih saja ada, bahkan banyak orang yang melakukan hal buruk dengan bermacam-macam alasan. Bukannya itu goblok? Lalu kata apa yang dapat menggambarkan, menjelaskan, memberikan pengertian supaya gua ga berpikiran seperti itu?

Gua pun ga pernah lepas dari yang namanya melakukan hal yang buruk, tapi gua yakin gua ga terlalu buruk jika dibandingkan dengan keburukan-keburukan yang pernah gua lihat. Terus kenapa keburukan-keburukan itu berulang-ulang menjadi semacam ciri bagi orang yang melakukannya? Kenapa mereka berani mengulanginya seakan-akan keburukan itu merupakan suatu kebaikan yang jika dilakukan akan memberikan pahala yang kemudian dicatat sebagai amal shaleh oleh malaikat.

'Semua hal yang kita lakukan akan mendapatkan balasan yang setimpal' Lalu kenapa harus menunggu nanti untuk mendapatkan balasannya? Kenapa harus menunggu nanti saat kita sudah terlanjur melakukan keburukan? Mungkin ini cara Tuhan, cara-Nya untuk melihat hati seseorang.
Diberdayakan oleh Blogger.