Selasa, 28 November 2017
Semua anak kalimat
Minggu, 22 Oktober 2017
Poros kata
Bumi berputar pada porosnya.
Kata dan kalimatku berputar pada kemungkinan-kemungkinan.
Selasa, 20 Juni 2017
Langkah
Langkah kaki menyentuh aspal
Menyentuh genangan air
Menyentuh pasir kerikil
Menyentuh tanah coklat tua yang basah
Menyentuh besi gerbong kereta Jakarta
Menyentuh lantai keramik roman
Menyentuh karpet biru tua yang kusam.
Kemudian berulang.
Setiap langkah itu,
Matamulah yang memberi penglihatan pada kedua kakiku
Seperti sinar lampu senter di seluruh rimba yang gelap,
Seperti ayat kitab suci menuntun jiwa manusia yang kering,
Seperti angin yang mengarahkan awan melepaskan hujan
Seperti waktu yang memandu matahari terbit dan tenggelam.
Tujuan belum ditentukan
Perjalanan sudah terlanjur dimulai
Manusia lahir dan mati kemudian
Maka sejatinya,
Kepadamulah aku menuju
Minggu, 16 Oktober 2016
Lima Bait Asa
Belakangan ini kecemasan sesak penuh berkumpul
Lagi-lagi ada banyak tanya
Lagi-lagi ada banyak ragu
Namun lagi-lagi (dan ini lebih yang lebih sering), wajahmu
terlintas dalam imaji pikirku
Duhai yang berparas pesona,
Entah aku yang terlalu banyak bertanya
Atau memang hidup ini yang terlalu misterius
Atau aku yang memang pengecut,
Tak kurang pandai membesarkan nyali sedari timangan
Duhai yang memancarkan bahagia,
Apa yang tumbuh di dalam sana?
Harap yang sama denganku?
Atau sebatas suka tuk bicara membunuh jeda
Apa harus ku bertanya? Atau bisu saja diam-diam berdoa
Duhai engkau yang jauh di sana,
Sudikah kiranya,
Hidup bersama pengelana?
Yang tak tahu kapan harus berhenti bertanya
Yang pergi jauh mencari berbagai jawaban namun selalu rindu tuk pulang
Yang berjalan perlahan, setapak demi setapak bahkan tak tahu ada badai besar di balik bukit
Dan pada akhirnya,
Kepada Yang Menentukan Perkara,
Bolehkah kali ini,
(Sekali ini saja)
Cukup jadikan ia perhentian terakhir,
Tempat pulang kemana saja jauh tuan pengelana pergi