Minggu, 03 Desember 2017

Lesung

Poros kata

Lesung di pipi
adalah kegagalan yang paling aku sukai
Ia menjelma jadi makam
yang setiap hari aku ziarahi

Doa doa dirapalkan
Melayang layang dibawa angin
seperti takdir mempermainkan seseorang;
Tak jelas.

Nasihat selalu berkata
Layaknya gaji ke-13
Setiap doa pasti terkabul walau kadang ditunda.
Membubarkan antrian di anjungan tunai.
Membuat sepi pedagang kelontongan.
Tetapi ia akan terkabul
Maka manusia selalu berdoa

Lesung di pipi
adalah alasan untuk mencintai kegagalan
Tidak ada keberhasilan tanpa usaha
Tidak ada usaha tanpa modal dan laba

Untuk itu aku berdoa
Di makam lesung pipi mu
Amin.

Selasa, 28 November 2017

Semua anak kalimat

Poros kata
Semua anak kalimat yang ku tulis,
Menjadi asing dan kehilangan makna.

Padahal,
Seperti halnya anak manusia
Semua anak kalimat punya cita-cita.
Anak kalimat ingin;
Menjadi kata kata
Menjadi frasa frasa
Menjadi alinea alinea
Menjadi cerita cerita.

Lalu setelah kau tau itu semua,
Adakah yang lebih buruk lagi dari
menjadi asing dan kehilangan makna? 

Kurasa tidak.
 
  

Minggu, 22 Oktober 2017

Poros kata

Poros kata

Bumi berputar pada porosnya.

Kata dan kalimatku berputar pada kemungkinan-kemungkinan.

Selasa, 20 Juni 2017

Langkah

Poros kata

Langkah kaki menyentuh aspal
Menyentuh genangan air
Menyentuh pasir kerikil
Menyentuh tanah coklat tua yang basah
Menyentuh besi gerbong kereta Jakarta
Menyentuh lantai keramik roman
Menyentuh karpet biru tua yang kusam.
Kemudian berulang.

Setiap langkah itu,
Matamulah yang memberi penglihatan pada kedua kakiku
Seperti sinar lampu senter di seluruh rimba yang gelap,
Seperti ayat kitab suci menuntun jiwa manusia yang kering,
Seperti angin yang mengarahkan awan melepaskan hujan
Seperti waktu yang memandu matahari terbit dan tenggelam.

Tujuan belum ditentukan
Perjalanan sudah terlanjur dimulai
Manusia lahir dan mati kemudian
Maka sejatinya,
Kepadamulah aku menuju

Minggu, 16 Oktober 2016

Lima Bait Asa

Poros kata
Duhai yang berhati manis,
Belakangan ini kecemasan sesak penuh berkumpul
Lagi-lagi ada banyak tanya
Lagi-lagi ada banyak ragu
Namun lagi-lagi (dan ini lebih yang lebih sering), wajahmu
terlintas dalam imaji pikirku

Duhai yang berparas pesona,
Entah aku yang terlalu banyak bertanya
Atau memang hidup ini yang terlalu misterius
Atau aku yang memang pengecut,
Tak kurang pandai membesarkan nyali sedari timangan

Duhai yang memancarkan bahagia,
Apa yang tumbuh di dalam sana?
Harap yang sama denganku?
Atau sebatas suka tuk bicara membunuh jeda
Apa harus ku bertanya? Atau bisu saja diam-diam berdoa

Duhai engkau yang jauh di sana,
Sudikah kiranya,
Hidup bersama pengelana?
Yang tak tahu kapan harus berhenti bertanya
Yang pergi jauh mencari berbagai jawaban namun selalu rindu tuk pulang
Yang berjalan perlahan, setapak demi setapak bahkan tak tahu ada badai besar di balik bukit

Dan pada akhirnya,
Kepada Yang Menentukan Perkara,
Bolehkah kali ini,
(Sekali ini saja)
Cukup jadikan ia perhentian terakhir,
Tempat pulang kemana saja jauh tuan pengelana pergi
Diberdayakan oleh Blogger.