Kamis, 14 Desember 2017

Tunggu

Poros kata

Biar aku bermakam
Di lesung dua pipimu
Seperti layar kapal
Makamnya adalah samudera
Biarkan jiwaku tenggelam
Di pusaran lesung itu

Biar aku bernaung
Di lengkung dua alismu
Seperti lengan ibu
Hangatnya adalah dunia
Biarkan sukmaku moksa
Ke dalam rangkulan jiwamu

Maka saat aku pergi
Tunggulah seperti suar kereta api
Memasuki peron peron
Selalu ada ruang sabar
Di antrian panjang perjalanan
Tunggulah,
Tunggulah,
Tunggu dan bersabarlah

Minggu, 03 Desember 2017

Lesung

Poros kata

Lesung di pipi
adalah kegagalan yang paling aku sukai
Ia menjelma jadi makam
yang setiap hari aku ziarahi

Doa doa dirapalkan
Melayang layang dibawa angin
seperti takdir mempermainkan seseorang;
Tak jelas.

Nasihat selalu berkata
Layaknya gaji ke-13
Setiap doa pasti terkabul walau kadang ditunda.
Membubarkan antrian di anjungan tunai.
Membuat sepi pedagang kelontongan.
Tetapi ia akan terkabul
Maka manusia selalu berdoa

Lesung di pipi
adalah alasan untuk mencintai kegagalan
Tidak ada keberhasilan tanpa usaha
Tidak ada usaha tanpa modal dan laba

Untuk itu aku berdoa
Di makam lesung pipi mu
Amin.

Selasa, 28 November 2017

Semua anak kalimat

Poros kata
Semua anak kalimat yang ku tulis,
Menjadi asing dan kehilangan makna.

Padahal,
Seperti halnya anak manusia
Semua anak kalimat punya cita-cita.
Anak kalimat ingin;
Menjadi kata kata
Menjadi frasa frasa
Menjadi alinea alinea
Menjadi cerita cerita.

Lalu setelah kau tau itu semua,
Adakah yang lebih buruk lagi dari
menjadi asing dan kehilangan makna? 

Kurasa tidak.
 
  

Minggu, 22 Oktober 2017

Poros kata

Poros kata

Bumi berputar pada porosnya.

Kata dan kalimatku berputar pada kemungkinan-kemungkinan.

Selasa, 20 Juni 2017

Langkah

Poros kata

Langkah kaki menyentuh aspal
Menyentuh genangan air
Menyentuh pasir kerikil
Menyentuh tanah coklat tua yang basah
Menyentuh besi gerbong kereta Jakarta
Menyentuh lantai keramik roman
Menyentuh karpet biru tua yang kusam.
Kemudian berulang.

Setiap langkah itu,
Matamulah yang memberi penglihatan pada kedua kakiku
Seperti sinar lampu senter di seluruh rimba yang gelap,
Seperti ayat kitab suci menuntun jiwa manusia yang kering,
Seperti angin yang mengarahkan awan melepaskan hujan
Seperti waktu yang memandu matahari terbit dan tenggelam.

Tujuan belum ditentukan
Perjalanan sudah terlanjur dimulai
Manusia lahir dan mati kemudian
Maka sejatinya,
Kepadamulah aku menuju

Diberdayakan oleh Blogger.