Senin, 14 Mei 2012

Hidup dari Sampah

Poros kata
"Buanglah sampah pada tempatnya!" - NN

Setiap harinya tak kurang saya bisa menghasilkan 5 sampah, khususnya sampah plastik. Kesemua sampah tersebut, saya selalu berupaya membuangnya ke tempat sampah, dan setelah itu selesai. Saya tidak pernah berpikir apa kelanjutan nasib dari sampah yang telah saya buang itu.

Sabtu, 12 Mei 2012 saya mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga dalam rangka fieldtrip mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Lahan. Saya sempat berpikir kenapa dinamakan Tempat Pembuangan Akhir mungkin tujuannya untuk memperhalus bagi orang yang mengucapkannya, daripada terang-terangan menyebut tempat pembuangan sampah. Saya tiba di lokasi sekitar pukul 13.40, siang itu matahari sedang bersemangat, malah menurut saya terlalu bersemangat membuat saya basah kuyup.

Kami memiliki waktu sekitar satu jam untuk berkeliling melihat-lihat tempat tersebut. Ada bau yang menyengat, ada lautan sampah, ada ratusan orang, dan saya perkirakan ada ribuan lalat di tempat tersebut. Betapa kacaunya tempat itu, bau busuk sangat kental walaupun memakai masker. Hal yang tidak terpikir oleh saya adalah ternyata ada orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari sampah, barang yang boleh saya anggap tidak ada nilainya sama sekali. Saya yakin sebagian besar orang juga memiliki pendapat yang sama, atau bahkan kita memang beranggapan dan sama sekali tidak berpikir bahwa sampah itu berharga. Ternyata saya diberikan kesempatan untuk membuka mata saya lebar-lebar, mungkin bukan hanya penglihatan, tapi adalah kepedulian saya terhadap kondisi yang ada di TPA Galuga.

Galuga
Sumber : Google
Saya tidak akan berbicara tentang pengolahan sampah yang memang katanya dapat mendatangkan keuntungan dengan mengolah sampah yang ada untuk dijadikan barang komersil, tapi saya ingin menceritakan tentang hal yang simple, memungut sampah. Kalian tahu ada berapa orang yang setiap harinya tidak kenal panas atau hujan mereka harus bersaing dengan yang lain untuk mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya? Setidaknya di Galuga ada lebih dari 500 orang yang memunguti sampah. Apa saja yang mereka anggap berharga akan mereka ambil, plastik, potongan kaca (beling), baju bekas, sepatu bekas, bahkan saya mendengar seorang bapak yang mengatakan "Kalo masih ada potongan roti yang sekiranya masih bisa dimakan, ya saya makan dek..". Saya tidak akan berkomentar, cukup kita renungkan bersama..

Galuga
Sumber : Google

Kemudian saya pun berkesempatan berdialog dengan salah seorang yang pekerjaannya memunguti sampah - saya lupa namanya. Beliau seorang wanita, usianya saya perkirakan 50 tahun. Cukup lama saya berbicara dengan beliau, dari situ saya mendapat beberapa informasi. Sampah plastik yang mereka ambil ternyata hanya dihargai 300 rupiah/kg. Hanya 300 rupiah, Ibu tersebut malah menyebutnya dengan 300 perak. Saya langsung terbayang banyaknya sampah plastik yang harus diambil, sebab beliau mengambil sampah plastik, bukan batu kali yang beratnya bisa puluhan kg. Maksimal yang bisa ia dapatkan adalah 100 kg/hari, berarti sama dengan 30 ribu rupiah yang beliau kantongi. Tapi menurut saya untuk mengumpulkan sampah ratusan kilo maka harus dimulai dari pagi buta sampai larut malam. Sampah-sampah yang mereka ambil, mereka jual kepada 'bos', begitu mereka menyebutnya. Di tempat tersebut memang hanya ada satu bos, satu pusat penjualan sampah-sampah yang ada.

Fieldtrip berakhir sekitar pukul 15.15, tidak lama kami di tempat itu. Cukuplah kiranya kita, seenaknya dalam membuang sampah. Buat saya kegiatan fieldtrip kali ini punya arti yang mendalam, belum lagi melihat raut wajah ibu dan bapak yang setiap harinya harus berpanas-panasan di lautan sampah. Rata-rata mereka telah berusia lanjut, namun tidak ada pilihan lain agar mereka mampu bertahan hidup. Menghidupi dirinya dan keluarganya dari sampah, yang selama ini tak pernah kita pedulikan sama sekali.

Senin, 30 April 2012

Poros kata
Tadi ada temen gua yang nanya, "Di, lu ulangtaun gak jalan ama cewe lu?"
Terus gua jawab, "Cewek gua yang mana nih, cewek gua banyak!" agak songong.
Dia bales ngomong ,"Weiss, bagilah satu"
Gua, "(Ketawa dan nyari posisi di pojokan)"

Ada banyak hal yang sesungguhnya gak perlu ditanggapi secara serius, nikmatin aja,
Why so seriooouus?

Jumat, 13 April 2012

Belajar dari Cilubang 4

Poros kata
'Dengan belajar Anda akan bisa mengajar, dengan mengajar Anda akan semakin belajar' 

Saat ini saya dan teman-teman saya yang tergabung dalam kegiatan Bina Desa FEM -yang merupakan program kerja BEM FEM IPB tahun 2011/2012- sedang melaksanakan kegiatan pengabdian masyarakat yang diberi nama FEM Mengajar. Kegiatan FEM Mengajar merupakan kegiatan pengajaran kepada siswa/i di SD Cilubang 4, Dramaga Bogor.

Apakah Anda pernah membayangkan seorang anak SD yang bercita-cita menjadi supir angkot? menjadi seorang ustadz? atau yang paling ekstrem menjadi seorang pemulung? Saya mendengar cita-cita tersebut dari SD ini. Saya juga heran dan kaget, di tengah kemajuan zaman yang begitu pesat ternyata kalau kita sadar di pelosok-pelosok sana masih terdapat sekelompok orang yang belum menikmati kemajuan zaman yang sering dibicarakan oleh 'orang kota'. Hal yang menjadi sebuah ironi sebenarnya letak SD ini bukan di pelosok, letaknya dekat dengan perkotaan, bahkan dekat dengan kampus IPB Dramaga yang sudah jelas di sana ada banyak mahasiswa yang sering disebut sebagai kaum intelek.

Kelas 3. Ada beberapa siswa yang kemampuan membacanya masih terbata-bata

Maka yang dapat disimpulkan adalah mungkin karena perhatian masyarakat khususnya orangtua belum menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya sehingga siswa/i tersebut tidak memiliki keinginan yang besar untuk sekolah sampai tinggi untuk menjadi seorang dokter, astronot, guru, atau presiden.

Kelas 5. Masih rutin menyanyikan lagu-lagu nasional seperti Indonesia raya dan Ibu Kita Kartini

Untuk itulah kami hadir disana, kami ingin mencoba mengajarkan mereka bermimpi, belajar untuk mempunyai impian yang besar karena pada dasarnya untuk mencapai suatu hal yang besar maka yang dibutuhkan hanyalah impian. Anak-anak harus punya impian, sebab apa lagi yang mereka punya kalau bukan sebuah impian. Ada banyak sekali kisah seorang yang sukses dengan modal impian, kita kenal kisah Arai di Sang Pemimpi yang berkata 'Buat orang seperti kita ini, apa lagi yang kita punya selain impian?'. Banyak lagi orang-orang yang sukses berkat impian-impian mereka.

Ulangan Bahasa Indonesia, Kelas 3.
Disini kami tidak hanya mengajar, kami juga banyak belajar. Pelajaran yang bisa diambil dari kegiatan ini, salah satunya adalah kami belajar tentang arti kata 'berbagi'. Adanya kegiatan FEM Mengajar ini membuat saya sadar betapa besar keuntungan yang didapat kalau kita bisa saling berbagi. Yang kami bagi dalam kegiatan ini tentu bukan sebuah materi, kami disini hanya berbagi kesenangan, keceriaan dan berbagi sedikit ilmu, sehingga apa-apa ilmu yang telah kami dapat sampai di bangku perkuliahan bisa bermanfaat, tidak hanya tertimbun di otak.


Pengajaran kelas 3


Tim Bina Desa FEM 2012
Semoga semoga dan sekali lagi semoga kegiatan ini bisa bermanfaat.
Info lebih lanjut silahkan cek http://bindesfem2012.blogspot.com/
Follow : @bindesfem

Senin, 09 April 2012

Hidup Perasaan!

Poros kata
Perasaan,
Apa itu perasaan? buat saya itu termasuk sesuatu yang abstrak, tak berwujud, tapi vital. Kadang kita bisa dengan mudahnya mengatur perilaku dan pola pikir kita, tapi lain halnya dengan perasaan. Buat saya dia termasuk sosok yang pendiriannya kuat dan punya prinsip. Saat kita dihadapkan pada sebuah pilihan, maka perasaanlah yang lebih dulu memiliki keputusan mengambil pilihan yang mana, sedangkan realisasinya nanti kita akan mengambil pilihan yang sesuai dengan perasaan atau bahkan bertentangan dengan yang kita rasakan. Terkadang pedih memang.

Kenapa saya menulis tentang perasaan? mungkin sekarang perasaan saya yang meminta saya menulis tentang perasaan. Entah kenapa, mungkin saya merasa ada banyak sekali fenomena 'perasaan' yang ada di sekitar saya. Mulai dari perasaan suka yang sulit menemukan keberlanjutan perasaan dari lawan jenisnya, perasaan benci yang ditahan agar tidak menyinggung perasaan orang lain, sampai yang paling tragis adalah korban perasaan. Lalu saya termasuk yang mana? kalau ada pilihan tidak perlu menjawab maka saya akan mengambil pilihan tersebut walaupun perasaan saya ingin sekali menjawabnya!

Nah itu, terkadang ingin sekali rasanya perasaan itu diungkapkan, tapi tak semua perasaan perlu diikrarkan, ada perasaan-perasaan yang lebih baik disimpan, untuk diungkapkan pada waktu yang tepat :)

*Perasaan gua tadinya mu nulis tentang hal yang lebih serius, tapi kenapa jadi tentang perasaan?? Ah mungkin cuma perasaan gua aja


Kamis, 29 Maret 2012

Unjuk gigi

Poros kata
We cannot always build the future for our youth, but we can build our youth for the future - Franklin D. Roosevelt

Apa itu unjuk rasa?
Unjuk rasa yang lebih dikenal sebagai aksi demonstrasi merupakan sebuah gerakan protes yang dilakukan sekumpulan orang di hadapan umum. Unjuk rasa biasanya dilakukan untuk menyatakan pendapat kelompok tersebut atau penentang kebijakan yang dilaksanakan suatu pihak atau dapat pula dilakukan sebagai sebuah upaya penekanan secara politik oleh kepentingan kelompok (Wikipedia).

Sah-sah saja menurut saya jika suatu kelompok melakukan unjuk rasa atas ketidakpuasan yang mereka rasakan akibat kebijakan atau suatu keputusan yang dianggap merugikan. Yang menjadi poin penting dalam hal ini adalah 'Seberapa efektif unjuk rasa yang mereka lakukan dalam mengatasi permasalahan yang ada?'. Unjuk rasa yang terjadi di Indonesia yang sebagian besar dilakukan oleh kalangan mahasiswa menimbulkan keunikan tersendiri. Mereka (kalangan mahasiswa) merupakan sosok kaum terpelajar yang sering disebut sebagai agen perubahan (agent of change) yang dapat membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, kerapkali 'keasyikan' dalam menyampaikan aspirasinya sehingga tak sedikit unjuk rasa tersebut harus mengorbankan ketertiban umum bahkan nyawa. Tentu kita sepakat hal inilah yang harus dihindari!

Memang ada banyak tokoh pemuda yang memang dikenal sebagai seorang demonstran, salah satunya adalah Soe Hok Gie. Seorang pemuda yang pada zamannya merupakan salah satu penggiat dan pelopor (boleh saya katakan) munculnya aksi-aksi besar mahasiswa dalam mengkritisi pemerintahan yang ada.
Salah satu pandangannya tentang demonstrasi: "Tetapi kenang-kenangan demonstrasi akan tetap hidup. Dia adalah batu tapal daripada perjuangan mahasiswa Indonesia, batu tapal dalam revolusi Indonesia dan batu tapal dalam sejarah Indonesia. Karena yang dibelanya adalah keadilan dan kejujuran."

Itu sepenggal cerita dari Soe Hok Gie pada masa pemerintahan Soekarno. Lalu bagaimana di zaman sekarang? Tentu jelas peran seorang mahasiswa menjadi lebih luas, peran pemuda di zaman ini tidak lagi berperan dalam skala Indonesia saja. Pemuda Indonesia saat ini harus berpikir dan bertindak global! Zaman telah berubah! Kalau hanya berpikir dan bertindak biasa-biasa saja yang ada bangsa ini akan semakin tertinggal, jauh tertinggal. Indonesia dapat dipandang oleh dunia melalui pemudanya. Indonesia dapat menjadi negara besar melalui pemudanya. Indonesia dapat menjadi negara sejahtera melalui peran nyata pemudanya!

Jadi jangan hanya unjuk rasa, sudah waktunya pemuda-pemuda Indonesia melakukan unjuk gigi dengan peran dan kontribusi nyata walaupun hanya melakukan hal-hal kecil.

Salam unjuk gigi!



Diberdayakan oleh Blogger.