Minggu, 22 Oktober 2017

Poros kata

Poros kata

Bumi berputar pada porosnya.

Kata dan kalimatku berputar pada kemungkinan-kemungkinan.

Selasa, 20 Juni 2017

Langkah

Poros kata

Langkah kaki menyentuh aspal
Menyentuh genangan air
Menyentuh pasir kerikil
Menyentuh tanah coklat tua yang basah
Menyentuh besi gerbong kereta Jakarta
Menyentuh lantai keramik roman
Menyentuh karpet biru tua yang kusam.
Kemudian berulang.

Setiap langkah itu,
Matamulah yang memberi penglihatan pada kedua kakiku
Seperti sinar lampu senter di seluruh rimba yang gelap,
Seperti ayat kitab suci menuntun jiwa manusia yang kering,
Seperti angin yang mengarahkan awan melepaskan hujan
Seperti waktu yang memandu matahari terbit dan tenggelam.

Tujuan belum ditentukan
Perjalanan sudah terlanjur dimulai
Manusia lahir dan mati kemudian
Maka sejatinya,
Kepadamulah aku menuju

Minggu, 16 Oktober 2016

Lima Bait Asa

Poros kata
Duhai yang berhati manis,
Belakangan ini kecemasan sesak penuh berkumpul
Lagi-lagi ada banyak tanya
Lagi-lagi ada banyak ragu
Namun lagi-lagi (dan ini lebih yang lebih sering), wajahmu
terlintas dalam imaji pikirku

Duhai yang berparas pesona,
Entah aku yang terlalu banyak bertanya
Atau memang hidup ini yang terlalu misterius
Atau aku yang memang pengecut,
Tak kurang pandai membesarkan nyali sedari timangan

Duhai yang memancarkan bahagia,
Apa yang tumbuh di dalam sana?
Harap yang sama denganku?
Atau sebatas suka tuk bicara membunuh jeda
Apa harus ku bertanya? Atau bisu saja diam-diam berdoa

Duhai engkau yang jauh di sana,
Sudikah kiranya,
Hidup bersama pengelana?
Yang tak tahu kapan harus berhenti bertanya
Yang pergi jauh mencari berbagai jawaban namun selalu rindu tuk pulang
Yang berjalan perlahan, setapak demi setapak bahkan tak tahu ada badai besar di balik bukit

Dan pada akhirnya,
Kepada Yang Menentukan Perkara,
Bolehkah kali ini,
(Sekali ini saja)
Cukup jadikan ia perhentian terakhir,
Tempat pulang kemana saja jauh tuan pengelana pergi

Senin, 19 September 2016

Tanya

Poros kata
Jadi, apa kabarnya hari ini ?

Rabu, 31 Desember 2014

Dua sisi ' Sang Tahun'

Poros kata
Beruntunglah dia yang lahir di awal tahun. Hari ulang tahunnya selalu dipenuhi oleh jutaan bahkan milyaran harapan baru. Harapan ini lahir dari semua penjuru dunia. Mulai dari negeri yang sedang tertimpa bencana dan dilanda perang tak berkesudahan, dari bangsa-bangsa adidaya yang berkuasa, dari perkampungan kecil di suatu lembah jauh dan terpencil, dari sudut-sudut gang sempit di jalanan yang kosong, dari hati yang tulus memanjatkan doa, dari seluruh tempat, seluruh spasi. Semua harapan itu saling bersauh, berkumpul naik ke atas memenuhi langit. Kalaulah harapan itu berbentuk awan, maka nyamanlah mungkin suasana di hari itu..

Pengharapan baru selalu berbeda di setiap kepala manusia. Ada banyak rupanya. Ada yang berharap atas pencapaian karir, nilai pelajaran, jodoh, ketaatan beribadah, berat badan ideal, dan lainnya. Bahkan tidak jarang satu kepala manusia mungkin punya kesemua jenis harapan baru itu. Kalau soal harapan, kita, manusia, memang rakus dan tamak. Selalu punya banyak. Dan untungnya harapan itu barang gratis yang dibuat dengan cuma-cuma.

Lalu bagaimana dengan dia yang lahir di penghujung tahun?

Duhai, sungguh malang.. Hari ulang tahunnya penuh dengan penyesalan atas berbagai hal. Penyesalan itu membayang-bayangi isi kepala dan hati manusia. Mereka yang tidak berani mengambil kesempatan, mereka yang gagal dalam berumah tangga, mereka yang malu menyatakan cintanya, mereka yang ragu dalam mengambil keputusan. Kegelisahan menyelimuti mereka sepanjang hari itu. Dan sudah barang takdir bahwa penyesalan selalu datang di penghujung, di akhir. Kalaulah penyesalan itu bagaikan titik hitam, maka sungguh bisa jadi gelaplah semesta alam  pada hari itu. Karena seringkali penyesalan manusia selalu lebih dalam dibandingkan pengharapan yang ia buat..


Tapi tunggu dulu...

Bukankah tidak mungkin harapan muncul tanpa adanya penyesalan?

Harapan selalu lahir dari sebuah proses. Bisa berasal dari proses yang baik atau buruk.
Orang yang sudah punya pekerjaan baik, akan berharap pekerjaannya semakin lancar. Demikian.
Sedangkan bagi yang lain sudah barang tentu, mereka yang menyesal memiliki harapan yang lebih kuat. Mereka yang menemukan titik balik akan terlontar lebih jauh, lebih cepat. Bisa jadi harapan tersebut menjadi perubah nasib seluruh hidupnya di masa yang akan datang..

Dan soal kelahiran manusia, maka ingatlah ini..
Bagi mereka yang lahir di penghujung tahun, bayangkan satu kebahagiaan yang terpancar dari seorang ibu. Kebahagiaan utuh yang ikut dibarengi dengan kelegaan hati seorang ayah, seluruh keluarga besar. Hari itu justru bermunculan harapan baru atas penantian panjang sang malaikat kecil. Dan sungguh, percayalah, pada hari itu kebahagiaan seorang ibu saja sudah cukup menerangi seluruh alam semesta..


--
Jadi, jangan menyesal terlalu dalam. Simpan.
Justru buatlah harapan baru yang jauh lebih dalam.
Selamat menyambut tahun yang semakin tua.
Diberdayakan oleh Blogger.