Tampilkan postingan dengan label Cerita Pengabdian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Pengabdian. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 16 Maret 2013

10 Kilometer Langkah, Merekam Jejak Mereka (Sebuah Catatan untuk Bina Desa FEM)

Poros kata
Hari ini dan besok adalah kelanjutan tentang cita-cita sebuah perjalanan panjang membangun sebuah desa, yang dari sana akan ada banyak pelajaran yang dapat diambil, khususnya pelajaran tentang bagaimana kita sebagai manusia harus bisa saling berbagi. Tulisan berikut, beserta judulnya merupakan tulisan dari seorang kakak yang memberikan banyak tauladan kepada saya, -bahkan saya yakin tidak hanya saya- tulisan yang dibuat tahun lalu sebagai sebuah kesan beserta wejangan. Sengaja saya 'angkat' kembali dalam rangka mengulas semua perjalanan tahun lalu dalam upaya menambah bekal perjalanan di tahun ini. Selamat membaca, sebuah tulisan dari Achmad Fachruddin.



Sukadamai, sebuah desa nan elok, di ujung atas kecamatan Dramaga. Hari minggu kemarin, ada sebuah keramaian di kampung ‘kahuripan’, ujung atas desa ini. Keramaian yang penuh arti. Keramaian yang membawa mereka pada indahnya berbagi, sejuknya berempati. Mereka yang ada di sana, telah meniti jalan yang penuh dengan cobaan. Mereka membuka jalan yang tadinya tertutup dari pandangan. Mereka telah berhasil membukanya.

Ini bukan pujian tak berdasar, atau sanjungan yang dilayangkan hanya untuk mendapatkan penghormatan balik. Cerita tentang mereka, terus menghiasi perjalanan dalam 7 bulan terakhir. Konsistensi dan persistensi dalam jalan pengabdian itu, menjadi satu rahasia yang mereka miliki. Ketahanan untuk terus bahagia dan optimis menjadi satu keahlian yang mulai mengakar dalam kepribadian mereka. Keramaian yang terjadi dari pagi hingga siang itu, mungkin menjadi titik zenit kebahagiaan mereka karena mereka berhasil melewati jalan itu.

Setelah keramaian itu berakhir. Terlihat raut wajah yang takut untuk merindu, terpancar dari wajah anak-anak kecil itu. Ya, anak-anak itu terlihat takut. Anak-anak itu tidak berani membayangkan, bahwa sabtu depan, tidak ada sosok mereka lagi. Figur-figur yang telah mengisi hati mereka di hari-hari kemarin, membuat mereka berani untuk bermimpi, semangat untuk belajar dan berjuang. Anak-anak itu mungkin takut, bahwa mereka akan benar-benar ditinggalkan dalam nyamannya ‘rumah baca jingga’ yang dua minggu terakhir di tepi bangunan rumah Bu Komariah. Anak-anak itu takut, karena anak-anak itu memahami makna keramaian yang baru saja berlalu. Penutupan dan Perpisahan.

Anak-anak Desa Sukadamai
Maka saat angkot sampai untuk menjemput mereka dan motor-motor siap digas untuk pulang.  kebersamaan dengan mereka pun usai dan langkah pertama mulai dijalankan dengan berjalan mengumpat untuk menunaikan kewajiban dari Sang Khalik di sebuah surau, sambil menunggu tidak ada yang tersisa dari mereka di tempat ini. Tepat pukul 13.30 perjalanan dimulai. 50 meter pertama ada sebuah gang kecil, Gang fenomenal yang pernah mengantarkan mereka masuk dalam sekolah dasar dan  membangunkan mereka untuk peduli terhadap pendidikan. Sekolah dasar yang mungkin berbanding 180 dengan sekolah yang ada di seberang kampus hijau IPB.

Langkah kaki terus berjalan, Jalan yang cukup panjang. Mereka pernah mengukurnya dengan spedometer, 10-11 kilometer dari kampus IPB Dramaga. Sisi kanan dan kiri jalan menyajikan kekhasannya  masing-masing. Sisi kiri jalan mengingatkan pada memori-memori praktikum agronomi dan hortikultura. Ladang pertanian yang bersilih ganti komoditas pangan, mulai dari jagung, ubi kayu, sampai ubi jalar. Tetapi ada sesuatu yang mesti diwaspadai, tanah-tanah pertanian itu sejengkal demi sejengkal mulai kalah bernegosiasi dengan pondasi bangunan modern. Akar permasalahannya cukup jelas, tanah-tanah pinggir jalan itu sebagian besar bukan lagi milik pribumi. Tapi syukurlah masih ada sisi kanan jalan, sisi jalan yang begitu menenangkan dan menyejukkan pandangan.  Lembah-lembah mungil, rumah-rumah desa yang terbentuk dengan lanskap alam, dan pohon-pohon beragam yang tumbuh tegak berdzikir pada Rabb-NYA.

Sampai langkah ini tiba di depan kantor desa Sukadamai, perut yang baru diganjal kue pukis Upan dan 1 botol susu dari kemaraian tadi, sudah tak kuasa menahan lapar. Beruntung ada warung makan mirip warteg barokah di depan balai desa. Satu piring penuh nasi, tempe ‘oreg’ khas sunda, dibalut tumis toge dan kacang panjang, semakin renyah dengan tambahan dua kerupuk putih bulat. Jam tangan menunjukan pukul 14.00. Penghujung siang itu semakin manis dengan segelas teh manis hangat. Sampai akhir perjalanan, satu kesan yang didapati tentang balai desa Sukadamai, kondisinya paling berbeda ketiga balai desa setelahnya, Sukawening, Ciherang, dan  Margajaya.

Berbagi
Langkah kaki semakin bersemangat melanjutkan perjalanan solo ini. Semakin ke bawah, semakin padat pemukiman di kanan-kiri jalan. Kalau dicatat, ada sekitar empat jalan bercabang atau pertigaan yang akan ditemui sebelum sampai pasar Dramaga. Percabangan pertama setelah melewati balai desa Sukadamai. Pertigaan kedua dan ketiga sangat berdekatan, kedua pertigaan ini akan dilewati setelah melewati bangunan pengelolaan air seperti PDAM di sebelah kanan jalan, dan pertigaan terakhir terdapat  di desa Ciherang. Wilayah ini cukup sarat dengan angkot.

Perjalanan semakin sejuk dengan hujan deras yang berganti gerimis ketika sampai di Sukawening. Adzan berkumandang, ibadah saat itu benar-benar merehatkan langkah yang sudah mulai lelah.

Sejujurnya, memang ada motif mendadak mengapa langkah panjang ini dilakukan. Tetapi, akhirnya muncul satu motivasi yang lebih mulia. Merekam perjalanan ini. Meremind perjalanan yang mereka lakukan dengan penuh keikhlasan sabtu dan minggu dalam 7 bulan terakhir. Meski jumlah mereka begitu dinamis, pengabdian itu benar-benar telah mereka lakukan sepenuh hati. Saat pengajar-pengajar itu berjalan, mereka cukup hafal beragamnya polisi tidur dari Pasar Dramaga hingga pertigaan pertama. Mereka cukup hafal dengan bau kandang ayam yang selalu jadi patokan dalam jalur perjalanan ini. Dan mereka semakin tersemangati oleh patung macan yang tak bosan menasihati “silih asah, silih asih, silih asuh”.

Saat pendampingan masyarakat ditunaikan, rumah baca disiapkan, layanan kesehatan digelar, serta logistik 2 ton beras dan 220 dus susu itu dibawa dalam ancaman hujan, jalan-jalan yang berkelok itu cukup menyulitkan mereka. Mungkin ini menjadi kenangan tersendiri bagi mereka. Mereka percaya, semua upaya ini layaknya batu pertama pondasi yang telah mereka kuburkan. Bagaimana nasib bangunannya setelah ini? Hanya bisa dijawab oleh generasi setelah mereka.
bekerja, bersama
Terima kasih; banyak, besar, dan luas; untuk mereka. Sahabat-sahabat yang tergabung dalam Bina Desa FEM, seluruh mahasiswa dan Lembaga Kemahasiswaan serta Dekanat Fakultas Ekonomi dan Manajemen. Sebuah pengaharapan, semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan terbaik untuk mereka.

Ucapan dan doa itu juga semoga tersematkan untuk semua sahabat yang telah berjuang dan berkontribusi setulus hati. Kepada sahabat-sahabat mahasiswa baik yang berkontribusi secara individu, organisasi, dan gerakan kepemudaan; badan eksekutif mahasiswa, dewan perwakilan mahasiswa, himpunan profesi, unit kegiatan mahasiswa. Semoga kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus istiqomah memberikan arti atas diri kita degan bermanfaat untuk orang-orang sekitar kita. Apapun lahan perjuangan yang kita pilih, lanjutkanlah!

Selasa, 18 Desember 2012

Poros kata

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
Aku bermimpi ingin mengubah dunia..

Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
Ku dapati bahwa dunia tidak kunjung berubah
Maka cita-citaku itupun agak ku persempit
Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.

Namun tampaknya ...
Hasrat itupun tidak ada hasilnya.

Ketika usiaku makin senja,
Dengan semangatku yang masih tersisa
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku
Orang-orang yang paling dekat denganku.
Tapi celakanya, merekapun tidak mau berubah !
Dan kini, sementara aku berbaring saat ajal menjelang

Tiba-tiba kusadari ...
Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,

Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan 
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku
Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka,
Bisa jadi akupun mampu memperbaiki negeriku
Kemudian siapa tahu, aku bahkan bisa merubah Dunia.

Terukir di sebuah batu nisan, Westminster Abbey, Inggris 1100 M


Hakikat hidup sekali lagi, adalah soal perubahan.

-Saat Menghadiri Seminar Belajar Merawat Indonesia di IPB-

Kamis, 01 November 2012

Catatan untuk Bina Desa FEM

Poros kata
Pertemuan kami bermula pada 18 Desember 2011, Rapat Perdana Departemen Pengabdian Masyarakat BEM FEM IPB. Beberapa wajah pernah tertangkap dan terekam oleh mata ini, namun lebih banyak wajah baru yang -saya pahami- suatu saat nanti akan melekat erat dalam memori otak kanan. Benar memang pertemuan pertama kami begitu terasa canggung, malu-malu dan amat santun, namun dari situ sebenarnya ide-ide dan gagasan mulai bermunculan, dari kepala-kepala yang tak pernah mengeluh jika harus berdiskusi hingga larut malam.
            Pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat kemudian menjadi rutinitas kami, sedikit bosan namun ada tanggungjawab yang menjadi konsekuensi kami sejak awal memutuskan untuk berada di Departemen Pengabdian Masyarakat. Kami bertukar pikiran tentang program kerja selama satu periode kepengurusan BEM FEM. Atas berbagai pertimbangan, akhirnya kami sepakat memfokuskan sebuah program pengabdian masyarakat yang terintegrasi dengan setiap Lembaga Kemahasiswaan dan Lembaga Struktural yang berada di FEM IPB.
Forum Bina Desa FEM pun digelar bersama perwakilan setiap Himpunan Profesi. Kami menyamakan persepsi dan urgensi pelaksanaan bina desa yang terintegrasi. Ada visi yang kami usung bersama, yaitu ‘Membangun sebuah desa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan wawasan masyarakat melalui fungsi  pemberdayaan dan pelayanan  sesuai dengan core competence mahasiswa FEM IPB’.
Fokus kami di tahun pertama pelaksanaan Bina Desa FEM yaitu melaksanakan fungsi pemberdayaan dan pelayanan di bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, dan lingkungan. Ada beberapa program yang kami canangkan; FEM Mengajar, Pelatihan Guru, dan Pendirian Rumah Baca untuk menopang bidang pendidikan, pendampingan UKM untuk meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat, dan Cek Kesehatan Gratis untuk menarik perhatian masyarakat tentang pentingnya arti kesehatan dan kelestarian lingkungan.
Penentuan Desa Sukadamai sebagai tempat kegiatan pengabdian kami bukan tanpa dasar. Jauh sebelum pelaksanaan bina desa, kami mendata desa-desa yang ada di lingkungan lingkar kampus IPB. Kami melakukan survey ke beberapa desa. Waktu itu ada tiga desa yang menjadi rekomendasi dari LPPM IPB. Tiga desa tersebut yaitu Desa Sukadamai, Desa Sukawening, dan Desa Petir. Akhirnya kami memilih Desa Sukadamai yang kami rasa sesuai dengan program yang akan kami jalankan. Periode pertama pun dimulai dengan berbagai perencanaan, yang nantinya baru akan benar-benar berakhir dalam lima tahun mendatang.
Ya memang benar, bekal untuk perjalanan ini telah kami siapkan dengan sebaik mungkin. Kami sudah siap mengarungi luasnya lautan, menghadapi ombak, menghadapi angin, bahkan menghadapi badai. Kami siap memulai perjalanan ini.
***
            Setiap Senin datang, di tempat itu ada kaki-kaki kecil yang berbaris dengan rapi, mengikuti upacara. Ketika Sabtu datang, tak jarang tempat itu diinjaki kaki-kaki yang bergerak lincah mengikuti bola yang berputar atau sekedar bermain lompat karet. Seharian di hari Minggu tempat tersebut terasa sepi, sepertinya ia ikut beristirahat akibat lelahnya menyaksikan aktivitas para siswa selama enam hari penuh. Tempat itulah yang menjadi tempat favorit saya, -halaman depan SDN Cilubang 4- yang ketika kami datang dengan lembutnya tangan-tangan kecil itu menggapai tangan kami; mencium dan bertanya dengan mata yang berbinar, ‘Belajar apa Kak hari ini?’ Atau ‘Kakak ngajar di kelas mana hari ini?’. Uniknya sambutan hangat itu selalu setia menemani perjalanan kami di SDN Cilubang 4.
Layar sudah dikembangkan, para pengajar memasuki kelas, mengajak siswa/i mengenal impian mereka masing-masing. Ada berbagai mimpi disana, ada yang ingin menjadi seorang ustadz, guru, mahasiswa, pilot, supir angkot, pemulung, presiden, dan masih banyak impian-impian mereka yang lain. Para pengajar kemudian memberikan nasihat yang mulia, mereka diajak untuk berani bermimpi besar. Seperti yang dikatakan oleh Arai -tokoh sentral  dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata- ‘yang perlu dilakukan oleh orang-orang seperti kita yaitu bermimpi besar dan kemudian mempercayainya’. Bukan tidak mungkin nantinya dari tempat itu akan muncul pemikir-pemikir hebat seperti Abdurrahman Wahid, Habibie, Dahlan Iskan atau bahkan sekelas Einstein. Semoga Tuhan senantiasa mendekap mereka dengan tangan-Nya, membimbing mereka untuk terus belajar ditengah segala keterbatasan.          
***
            Hari Minggu tanggal 29 April 2012 adalah sejarah bagi kami, kegiatan turun desa pertama dimulai. Kegiatan pertama itu kami isi dengan melakukan pemetaan potensi unit usaha yang berada di wilayah Desa Sukadamai. Kami mengunjungi beberapa tempat dengan memecah tim menjadi beberapa kelompok. Tempat yang kami kunjungi antara lain peternakan kelinci, peternakan kambing etawa dan home industry sepatu. Ada beberapa unit usaha lain yang dijalankan di wilayah Sukadamai, antara lain pembuatan keranjang dari bambu dan juga unit usaha Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang dilaksanakan oleh Kelompok Wanita Tani (KWT).
            Minggu-minggu berikutnya kami masih berfokus pada penggalian potensi sumberdaya alam dan juga berbagai macam unit usaha masyarakat. Kami berhubungan dengan banyak orang; Ibu Encih selaku Ketua KWT; Bapak Sake sebagai Ketua Gapoktan; Bapak Didin, Bapak Anda, dan Bapak Uci selaku pengurus desa; Bapak Ipul selaku Ketua RT.05/ RW.05; Bapak Agus, dan beberapa warga desa yang lain.
            Sasaran kegiatan bina desa yang dilaksanakan memang tidak bisa mencakup satu desa keseluruhan. Setelah melakukan pemetaan potensi desa, kami memutuskan untuk memfokuskan kegiatan ini dalam wilayah satu RT. Kami memilih wilayah RT.05/RW.05 yang terletak cukup jauh dengan kantor desa. Boleh saya katakan wilayah ini cukup berbeda dengan wilayah lain yang berada di Desa Sukadamai. Ada 75 kepala keluarga yang tersebar di wilayah RT tersebut, namun letak rumah antar kepala keluarga cukup berjauhan. Untuk mengelilingi wilayah satu RT membutuhkan waktu lebih dari satu jam, jalannya berbukit, melewati sawah-sawah, dan hutan. Dari lingkungan satu RT ini perjalanan kegiatan bina desa FEM dimulai, hingga nanti bisa menyebar mencakup satu desa keseluruhan.
            Di minggu-minggu terakhir kegiatan bina desa, kami mendirikan rumah baca yang kami namai ‘Rumah Baca Jingga’. Warna kebanggaan kami, indentitas yang senantiasa kami jaga kehormatannya. Semoga tempat itu menjadi tempat yang nyaman untuk menambah pengetahuan dan wawasan atau sekedar mempererat tali silaturahmi. Cek kesehatan digelar, bukan untuk mendapatkan perhatian. Kami ingin memberikan edukasi tentang pentingnya menjaga kesehatan. Bina Desa ditutup dengan pemberian bantuan sosial berupa paket sembako. Ah, tidak perlu berterima kasih kepada kami, tapi mari kita mengucap syukur kepada Yang Maha Memberi. Kami hanya memfasilitasi, diluar dugaan besar sekali antusiasme teman-teman semua untuk ikut berbagi terhadap saudara-saudara kita.
            Saya menyadari perjalanan Bina Desa FEM di periode pertama ini masih belum menghasilkan apa-apa. Ada banyak evaluasi dan kekurangan yang harus diperbaiki. Fokus kegiatan di periode berikutnya mungkin dapat diarahkan pada program pendampingan usaha masyarakat yang dilaksanakan secara kontinyu, pemberdayaan masyarakat khususnya kelompok pemuda di wilayah Desa Sukadamai, pendekatan masyarakat melalui kegiatan-kegiatan rutin di desa tersebut, dan fungsi pelayanan di bidang kesehatan dan lingkungan melalui berbagai variasi kegiatan. Ini mungkin yang menjadi rekomendasi program untuk pelaksanaan Bina Desa FEM di tahun kedua.

Ucapan terima kasih dan Harapan
            Secara pribadi saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan Bina Desa FEM 2012. Tidak ada penghargaan spesial yang dapat saya berikan. Terima kasih untuk Panitia Bina Desa FEM 2012 yang telah memprioritaskan kegiatan ini, Dekanat Fakultas Ekonomi dan Manajemen, BEM FEM IPB Kabinet Progresif, Hipotesa, Com@, Hipma, Reesa, Ses-c, Formasi, Karemata, seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen, pihak sponsor, semua pihak yang terlibat dalam kegiatan ini yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
            Secara khusus saya ucapkan terima kasih kepada teman, sahabat, saudara, keluarga baru saya di Departemen Pengabdian Masyarakat BEM FEM IPB. Untuk Willy Setya Perdana, Rifal Laksmana, Aulia Isnaini Putri, Lestariningsih, Rita Fajarwati, Fauziah Adzimatinur, Nur Cahaya, Laras Lestari, dan Eka Nurnafih. Untuk 'Para Pembelajar' Ramadina Dasri, Esti Khoerunnisa, Ririn Indah Safitri, dan Monicha Septya H.  Hanya ucapan ini yang dapat saya berikan yang tidak berarti apa-apa dengan pengorbanan yang telah diberikan. Semoga harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan, harapan untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, harapan untuk membangun sebuah peradaban yang lebih baik.
         Perahu itu kini telah berlayar, maka janganlah kembali ke dermaga untuk memulai perjalanan. Lanjutkan perjalanan itu, gunakan bekal yang telah ada saat ini. Siapa pun yang melanjutkan perjalanan itu, maka teruskankanlah. Buat harapan yang lebih besar, buat jejak yang lebih indah, buat perjalanan itu menjadi lebih bermakna. Semoga cita-cita mulia tentang kegiatan Bina Desa FEM bisa terwujud. Semoga Tuhan senantiasa meridhai apa-apa yang telah dan akan kita kerjakan. Amin.

Senin, 30 Juli 2012

Mendidik Dengan Hati

Poros kata
             "Kak, ayo cerita lagi!" Kata-kata itu masih terdengar jelas di telinga saya, Arif (siswa kelas 6) beserta teman-temannya yang lain telah siap-siap memasang kupingnya mendengar cerita sederhana yang saya sampaikan. 

Sudah hampir 4 bulan ini saya dan teman-teman saya menjalankan sebuah program pengajaran kepada adik-adik kami di SD Cilubang 4. Program ini disebut sebagai FEM Mengajar. Program yang merupakan program kerja Departemen Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (BEM FEM) IPB bertujuan untuk memfasilitasi para siswa di sekolah tersebut untuk lebih memahami mata pelajaran yang belum mereka kuasai, meningkatkan keterampilan dan kreatifitas para siswa, serta untuk memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus semangat dalam mencari ilmu.

Kegiatan ini dimulai pada tanggal 24 Maret lalu, disini saya dituntut untuk menjadi seorang ‘guru’ bagi siswa-siswi di SD tersebut. Tantangannya adalah bagaimana cara saya mengajar dengan baik agar mereka dapat menguasai materi yang ada di setiap mata pelajaran dengan sebaik mungkin. Awalnya saya berpikir sangat sederhana, cukup dengan membuka-buka kembali buku-buku pelajaran tingkat sekolah dasar maka saya rasa saya akan mampu mengajar dengan baik. Ternyata seiring berjalannya waktu, ada peranan lain yang dibutuhkan oleh adik-adik tersebut yang lebih dari sekedar kegiatan mengajar. Hal inilah yang kemudian saya sebut sebagai peran ‘mendidik’.


Kondisi siswa-siswi di SD Cilubang 4 saya katakan jauh berbeda jika dibandingkan dengan siswa-siswi SD di perkotaan pada umumnya. Disini para siswa dihadapkan pada berbagai macam keterbatasan; keterbatasan sarana dan prasarana kegiatan belajar, keterbatasan tenaga pengajar, keterbatasan dalam mengakses informasi, serta keterbatasan biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini membuat mereka kurang memiliki motivasi yang kuat untuk memiliki impian yang besar dan kemudian mewujudkan impian tersebut. Kondisi warga di sekitar lingkungan SD tersebut masih berpikir tradisional. Rata-rata kepedulian para orangtua terhadap pendidikan anaknya masih sangatlah kurang. Bayangkan saja, masih banyak sekali anak-anak di sekolah tersebut yang tidak memiliki akta kelahiran, padahal kita ketahui bersama akta kelahiran dibutuhkan dalam proses pembuatan ijazah saat mereka lulus nanti. Lebih dari itu, akta kelahiran merupakan dokumen tertulis yang sah yang menunjukkan status kewarganegaraan seseorang.

Siswa-siswi SD Cilubang 4
               
Dampak yang muncul akibat hal ini adalah tidak adanya keinginan yang besar dari siswa-siswi di SD Cilubang 4 untuk memiliki impian yang besar. Pernah suatu ketika di sela-sela kegiatan belajar mengajar, para siswa di SD Cilubang 4 ditanya mengenai cita-cita mereka. Beberapa anak menjawab ingin menjadi seorang dokter, pilot, presiden, dan guru. Itu merupakan jawaban yang umumnya akan selalu muncul jika ditanyakan kepada seorang anak. Kejadian yang cukup menggelitik –sekaligus menjadi ironi-  hati saya adalah ada beberapa anak yang memiliki cita-cita yang ‘berbeda’, ada yang ingin menjadi supir angkot, petani, dan lebih parah menjadi seorang pemulung. Saya sama sekali tidak bermaksud merendahkan beberapa profesi tersebut, namun bukankah sejak kecil kita –pada umumnya- telah ter-mindset untuk memiliki cita-cita yang hebat? Ternyata ‘hukum’ ini tidak sepenuhnya berlaku di tempat saya mengajar.

Belajar dari kegiatan Mengajar
                
Mari kita berpikir lebih jauh lagi, contoh-contoh yang saya ceritakan diatas hanyalah sebagian kecil potret miring tentang dunia pendidikan di Indonesia. Ingat, wilayah Desa Sukadamai termasuk kedalam Wilayah Bogor, Jawa Barat, yang menurut saya termasuk ke dalam wilayah yang modern dan tidak kalah dengan wilayah ibukota. Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang ada di pedalaman? Saudara-saudara kita yang hidupnya masih bersuku-suku dan sangat jauh dari pusat perkotaan? Permasalahan pendidikan yang muncul pasti akan semakin kompleks.

Hal-hal seperti ini sudah sepatutnya menjadi pemikiran kita semua, khususnya bagi pihak pemerintah dan kalangan akademisi. Pemerataan pendidikan perlu diterapkan hingga ke seluruh pelosok negeri ini, tanpa terkecuali! Program Wajib Belajar 9 tahun yang selama ini dicanangkan perlu ditinjau kembali kenyataannya di lapangan. Penyediaan sekolah gratis perlu didukung dengan akses jalan yang memadai untuk mencapai sekolah tersebut, sebab masih banyak saudara-saudara kita yang harus menempuh puluhan kilometer untuk dapat bersekolah, bahkan kita ingat kasus terakhir di Garut, ada para siswa yang harus bergelantungan melewati jembatan untuk mencapai sekolahnya yang menjadi bahan perbincangan dunia internasional.

Bagi kalangan akademisi khususnya perguruan tinggi, peran pengabdian masyarakat yang merupakan salah satu tri dharma perguruan tinggi perlu direalisasikan dengan mengadakan program-program turun desa, pembinaan desa, pengabdian, bimas (bimbingan massal), dan peran pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting demi terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas yang nantinya ikut serta dalam pembangunan bangsa. Tentunya dengan diikuti peningkatan kesejahteraan setiap individu.

Gedung sekolah ditopang oleh bambu
             
Kembali ke kegiatan saya di SD Cilubang 4. Kondisi yang menurut saya cukup memprihatinkan di tempat itu merubah pandangan saya tentang definisi kata mengajar. Ada peran lain yang dibutuhkan bagi siswa-siswi di tempat tersebut, bahkan memang peran ini dibutuhkan bagi semua anak-anak dalam proses belajar mengajar. Mereka perlu stimulan untuk membuat impian yang besar, cita-cita yang luar biasa, dan harapan untuk terus berupaya mewujudkan impiannya. Hal inilah yang saya sebut sebagai kata ‘mendidik’. Mendidik menurut saya mempunyai andil yang lebih besar dari sekedar mengajar. Mendidik berarti berupaya masuk ke dalam pola pikir anak-anak tersebut, memberikan pemahaman agar mereka senantiasa berbuat baik, memberikan semangat untuk terus belajar, memberikan motivasi untuk tetap tegak berjalan ditengah segala keterbatasan, dan memberikan keyakinan bahwa mereka mampu menjadi orang yang besar..

Mendidik merupakan pekerjaan yang mulia, yang hanya akan berhasil jika didasari dengan rasa keikhlasan. Disinilah saya mengerti mengapa seorang guru dikatakan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, karena pekerjaan mereka tidak hanya mengajar, namun mendidik anak-anak yang telah mereka anggap sebagai anak kandung sendiri. Mendidik dengan hati, itulah yang mereka kerjakan.

Ada banyak sekali kejadian-kejadian yang menginspirasi saya selama melaksanakan kegiatan di tempat ini, sampai saat ini pun saya beserta teman-teman saya masih tetap menjalankan program ini. Saya berharap program ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi saya pribadi yang telah belajar banyak tentang arti kesederhanaan dan keindahan makna kata saling berbagi.
Diberdayakan oleh Blogger.