Minggu, 11 November 2012
Kamis, 01 November 2012
Catatan untuk Bina Desa FEM
Pertemuan kami bermula pada 18 Desember 2011, Rapat Perdana
Departemen Pengabdian Masyarakat BEM FEM IPB. Beberapa wajah pernah tertangkap
dan terekam oleh mata ini, namun lebih banyak wajah baru yang -saya pahami-
suatu saat nanti akan melekat erat dalam memori otak kanan. Benar memang
pertemuan pertama kami begitu terasa canggung, malu-malu dan amat santun, namun
dari situ sebenarnya ide-ide dan gagasan mulai bermunculan, dari kepala-kepala
yang tak pernah mengeluh jika harus berdiskusi hingga larut malam.
Pertemuan-pertemuan dan
rapat-rapat kemudian menjadi rutinitas kami, sedikit bosan namun ada
tanggungjawab yang menjadi konsekuensi kami sejak awal memutuskan untuk berada
di Departemen Pengabdian Masyarakat. Kami bertukar pikiran tentang program
kerja selama satu periode kepengurusan BEM FEM. Atas berbagai pertimbangan, akhirnya
kami sepakat memfokuskan sebuah program pengabdian masyarakat yang terintegrasi
dengan setiap Lembaga Kemahasiswaan dan Lembaga Struktural yang berada di FEM
IPB.
Forum Bina Desa FEM pun digelar bersama perwakilan setiap
Himpunan Profesi. Kami menyamakan persepsi dan urgensi pelaksanaan bina desa yang
terintegrasi. Ada visi yang kami usung bersama, yaitu ‘Membangun
sebuah desa dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan wawasan masyarakat
melalui fungsi pemberdayaan dan
pelayanan sesuai dengan core competence mahasiswa FEM IPB’.
Fokus kami di tahun pertama pelaksanaan Bina Desa FEM yaitu
melaksanakan fungsi pemberdayaan dan pelayanan di bidang pendidikan, ekonomi,
kesehatan, dan lingkungan. Ada beberapa program yang kami canangkan; FEM
Mengajar, Pelatihan Guru, dan Pendirian Rumah Baca untuk menopang bidang
pendidikan, pendampingan UKM untuk meningkatkan kondisi ekonomi masyarakat, dan
Cek Kesehatan Gratis untuk menarik perhatian masyarakat tentang pentingnya arti
kesehatan dan kelestarian lingkungan.
Penentuan Desa Sukadamai sebagai tempat kegiatan
pengabdian kami bukan tanpa dasar. Jauh sebelum pelaksanaan bina desa, kami
mendata desa-desa yang ada di lingkungan lingkar kampus IPB. Kami melakukan
survey ke beberapa desa. Waktu itu ada tiga desa yang menjadi rekomendasi dari
LPPM IPB. Tiga desa tersebut yaitu Desa Sukadamai, Desa Sukawening, dan Desa
Petir. Akhirnya kami memilih Desa Sukadamai yang kami rasa sesuai dengan
program yang akan kami jalankan. Periode pertama pun dimulai dengan berbagai
perencanaan, yang nantinya baru akan benar-benar berakhir dalam lima tahun
mendatang.
Ya memang benar, bekal untuk perjalanan ini telah kami
siapkan dengan sebaik mungkin. Kami sudah siap mengarungi luasnya lautan,
menghadapi ombak, menghadapi angin, bahkan menghadapi badai. Kami siap memulai
perjalanan ini.
***
Setiap Senin datang, di
tempat itu ada kaki-kaki kecil yang berbaris dengan rapi, mengikuti upacara. Ketika
Sabtu datang, tak jarang tempat itu diinjaki kaki-kaki yang bergerak lincah
mengikuti bola yang berputar atau sekedar bermain lompat karet. Seharian di
hari Minggu tempat tersebut terasa sepi, sepertinya ia ikut beristirahat akibat
lelahnya menyaksikan aktivitas para siswa selama enam hari penuh. Tempat itulah
yang menjadi tempat favorit saya, -halaman depan SDN Cilubang 4- yang ketika
kami datang dengan lembutnya tangan-tangan kecil itu menggapai tangan kami;
mencium dan bertanya dengan mata yang berbinar, ‘Belajar apa Kak hari ini?’
Atau ‘Kakak ngajar di kelas mana hari ini?’. Uniknya sambutan hangat itu selalu
setia menemani perjalanan kami di SDN Cilubang 4.
Layar sudah dikembangkan, para pengajar memasuki kelas,
mengajak siswa/i mengenal impian mereka masing-masing. Ada berbagai mimpi
disana, ada yang ingin menjadi seorang ustadz, guru, mahasiswa, pilot, supir
angkot, pemulung, presiden, dan masih banyak impian-impian mereka yang lain.
Para pengajar kemudian memberikan nasihat yang mulia, mereka diajak untuk
berani bermimpi besar. Seperti yang dikatakan oleh Arai -tokoh sentral dalam novel Sang Pemimpi karya Andrea Hirata-
‘yang perlu dilakukan oleh orang-orang seperti kita yaitu bermimpi besar dan
kemudian mempercayainya’. Bukan tidak mungkin nantinya dari tempat itu akan
muncul pemikir-pemikir hebat seperti Abdurrahman Wahid, Habibie, Dahlan Iskan atau
bahkan sekelas Einstein. Semoga Tuhan senantiasa mendekap mereka dengan
tangan-Nya, membimbing mereka untuk terus belajar ditengah segala keterbatasan.
***
Hari Minggu tanggal 29
April 2012 adalah sejarah bagi kami, kegiatan turun desa pertama dimulai.
Kegiatan pertama itu kami isi dengan melakukan pemetaan potensi unit usaha yang
berada di wilayah Desa Sukadamai. Kami mengunjungi beberapa tempat dengan
memecah tim menjadi beberapa kelompok. Tempat yang kami kunjungi antara lain
peternakan kelinci, peternakan kambing etawa dan home industry sepatu. Ada beberapa unit usaha lain yang dijalankan
di wilayah Sukadamai, antara lain pembuatan keranjang dari bambu dan juga unit
usaha Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) yang dilaksanakan oleh Kelompok Wanita
Tani (KWT).
Minggu-minggu berikutnya
kami masih berfokus pada penggalian potensi sumberdaya alam dan juga berbagai
macam unit usaha masyarakat. Kami berhubungan dengan banyak orang; Ibu Encih selaku
Ketua KWT; Bapak Sake sebagai Ketua Gapoktan; Bapak Didin, Bapak Anda, dan
Bapak Uci selaku pengurus desa; Bapak Ipul selaku Ketua RT.05/ RW.05; Bapak
Agus, dan beberapa warga desa yang lain.
Sasaran kegiatan bina desa
yang dilaksanakan memang tidak bisa mencakup satu desa keseluruhan. Setelah
melakukan pemetaan potensi desa, kami memutuskan untuk memfokuskan kegiatan ini
dalam wilayah satu RT. Kami memilih wilayah RT.05/RW.05 yang terletak cukup
jauh dengan kantor desa. Boleh saya katakan wilayah ini cukup berbeda dengan
wilayah lain yang berada di Desa Sukadamai. Ada 75 kepala keluarga yang
tersebar di wilayah RT tersebut, namun letak rumah antar kepala keluarga cukup
berjauhan. Untuk mengelilingi wilayah satu RT membutuhkan waktu lebih dari satu
jam, jalannya berbukit, melewati sawah-sawah, dan hutan. Dari lingkungan satu
RT ini perjalanan kegiatan bina desa FEM dimulai, hingga nanti bisa menyebar
mencakup satu desa keseluruhan.
Di minggu-minggu terakhir
kegiatan bina desa, kami mendirikan rumah baca yang kami namai ‘Rumah Baca
Jingga’. Warna kebanggaan kami, indentitas yang senantiasa kami jaga
kehormatannya. Semoga tempat itu menjadi tempat yang nyaman untuk menambah
pengetahuan dan wawasan atau sekedar mempererat tali silaturahmi. Cek kesehatan
digelar, bukan untuk mendapatkan perhatian. Kami ingin memberikan edukasi
tentang pentingnya menjaga kesehatan. Bina Desa ditutup dengan pemberian
bantuan sosial berupa paket sembako. Ah, tidak perlu berterima kasih kepada
kami, tapi mari kita mengucap syukur kepada Yang Maha Memberi. Kami hanya
memfasilitasi, diluar dugaan besar sekali antusiasme teman-teman semua untuk
ikut berbagi terhadap saudara-saudara kita.
Saya menyadari perjalanan Bina
Desa FEM di periode pertama ini masih belum menghasilkan apa-apa. Ada banyak
evaluasi dan kekurangan yang harus diperbaiki. Fokus kegiatan di periode
berikutnya mungkin dapat diarahkan pada program pendampingan usaha masyarakat
yang dilaksanakan secara kontinyu, pemberdayaan masyarakat khususnya kelompok
pemuda di wilayah Desa Sukadamai, pendekatan masyarakat melalui
kegiatan-kegiatan rutin di desa tersebut, dan fungsi pelayanan di bidang
kesehatan dan lingkungan melalui berbagai variasi kegiatan. Ini mungkin yang
menjadi rekomendasi program untuk pelaksanaan Bina Desa FEM di tahun kedua.
Ucapan terima kasih dan Harapan
Secara pribadi saya ucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan kegiatan
Bina Desa FEM 2012. Tidak ada penghargaan spesial yang dapat saya berikan.
Terima kasih untuk Panitia Bina Desa FEM 2012 yang telah memprioritaskan
kegiatan ini, Dekanat Fakultas Ekonomi dan Manajemen, BEM FEM IPB Kabinet
Progresif, Hipotesa, Com@, Hipma, Reesa, Ses-c, Formasi, Karemata, seluruh
mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen, pihak sponsor, semua pihak yang
terlibat dalam kegiatan ini yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu.
Secara khusus saya ucapkan
terima kasih kepada teman, sahabat, saudara, keluarga baru saya di Departemen
Pengabdian Masyarakat BEM FEM IPB. Untuk Willy Setya Perdana, Rifal Laksmana,
Aulia Isnaini Putri, Lestariningsih, Rita Fajarwati, Fauziah Adzimatinur, Nur
Cahaya, Laras Lestari, dan Eka Nurnafih. Untuk 'Para Pembelajar' Ramadina Dasri, Esti Khoerunnisa, Ririn Indah Safitri, dan Monicha Septya H. Hanya ucapan ini yang dapat saya
berikan yang tidak berarti apa-apa dengan pengorbanan yang telah diberikan.
Semoga harapan-harapan itu akan menjadi kenyataan, harapan untuk bisa
bermanfaat bagi orang lain, harapan untuk membangun sebuah peradaban yang lebih
baik.
Perahu itu kini telah berlayar, maka janganlah kembali ke
dermaga untuk memulai perjalanan. Lanjutkan perjalanan itu, gunakan bekal yang
telah ada saat ini. Siapa pun yang melanjutkan perjalanan itu, maka
teruskankanlah. Buat harapan yang lebih besar, buat jejak yang lebih indah,
buat perjalanan itu menjadi lebih bermakna. Semoga cita-cita mulia tentang
kegiatan Bina Desa FEM bisa terwujud. Semoga Tuhan senantiasa meridhai apa-apa
yang telah dan akan kita kerjakan. Amin.
Jumat, 31 Agustus 2012
Sebuah tanya
Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih,
Lembah Mandalawangi..
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
'Kudengar detak jantungmu'
Kita begitu berbeda dalam semua,
Kecuali dalam cinta
Beberapa bait puisi, dalam Sebuah Tanya - Soe Hok Gie.
Catatan : Minggu ini saya harus menunda kembali pendakian ke Gunung Gede karena jalur pendakian kembali ditutup, diperpanjang hingga akhir September.
Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
Apakah kau masih selembut dahulu
Memintaku minum susu dan tidur yang lelap
Sambil membenarkan letak leher kemejaku
Kabut tipis pun turun pelan pelan di Lembah Kasih,
Lembah Mandalawangi..
Kau dan aku tegak berdiri
Melihat hutan-hutan yang menjadi suram
Meresapi belaian angin yang menjadi dingin
Apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
Ketika kudekap
Kau dekaplah lebih mesra
Lebih dekat
Apakah kau masih akan berkata
'Kudengar detak jantungmu'
Kita begitu berbeda dalam semua,
Kecuali dalam cinta
Beberapa bait puisi, dalam Sebuah Tanya - Soe Hok Gie.
Catatan : Minggu ini saya harus menunda kembali pendakian ke Gunung Gede karena jalur pendakian kembali ditutup, diperpanjang hingga akhir September.
Senin, 30 Juli 2012
Mendidik Dengan Hati
"Kak, ayo cerita lagi!" Kata-kata itu masih terdengar jelas di telinga saya, Arif (siswa kelas 6) beserta teman-temannya yang lain telah siap-siap memasang kupingnya mendengar cerita sederhana yang saya sampaikan.
Sudah hampir 4 bulan ini saya dan teman-teman saya menjalankan sebuah program pengajaran kepada adik-adik kami di SD Cilubang 4. Program ini disebut sebagai FEM Mengajar. Program yang merupakan program kerja Departemen Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (BEM FEM) IPB bertujuan untuk memfasilitasi para siswa di sekolah tersebut untuk lebih memahami mata pelajaran yang belum mereka kuasai, meningkatkan keterampilan dan kreatifitas para siswa, serta untuk memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus semangat dalam mencari ilmu.
Sudah hampir 4 bulan ini saya dan teman-teman saya menjalankan sebuah program pengajaran kepada adik-adik kami di SD Cilubang 4. Program ini disebut sebagai FEM Mengajar. Program yang merupakan program kerja Departemen Pengabdian Masyarakat, Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Manajemen (BEM FEM) IPB bertujuan untuk memfasilitasi para siswa di sekolah tersebut untuk lebih memahami mata pelajaran yang belum mereka kuasai, meningkatkan keterampilan dan kreatifitas para siswa, serta untuk memberikan motivasi kepada para siswa untuk terus semangat dalam mencari ilmu.
Kegiatan ini dimulai
pada tanggal 24 Maret lalu, disini saya dituntut untuk menjadi seorang ‘guru’
bagi siswa-siswi di SD tersebut. Tantangannya adalah bagaimana cara saya
mengajar dengan baik agar mereka dapat menguasai materi yang ada di setiap mata
pelajaran dengan sebaik mungkin. Awalnya saya berpikir sangat sederhana, cukup
dengan membuka-buka kembali buku-buku pelajaran tingkat sekolah dasar maka saya
rasa saya akan mampu mengajar dengan baik. Ternyata seiring berjalannya waktu, ada
peranan lain yang dibutuhkan oleh adik-adik tersebut yang lebih dari sekedar
kegiatan mengajar. Hal inilah yang kemudian saya sebut sebagai peran
‘mendidik’.
Kondisi siswa-siswi di
SD Cilubang 4 saya katakan jauh berbeda jika dibandingkan dengan siswa-siswi SD
di perkotaan pada umumnya. Disini para siswa dihadapkan pada berbagai macam
keterbatasan; keterbatasan sarana dan prasarana kegiatan belajar, keterbatasan
tenaga pengajar, keterbatasan dalam mengakses informasi, serta keterbatasan
biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini membuat
mereka kurang memiliki motivasi yang kuat untuk memiliki impian yang besar dan
kemudian mewujudkan impian tersebut. Kondisi warga di sekitar lingkungan SD
tersebut masih berpikir tradisional. Rata-rata kepedulian para orangtua
terhadap pendidikan anaknya masih sangatlah kurang. Bayangkan saja, masih
banyak sekali anak-anak di sekolah tersebut yang tidak memiliki akta kelahiran,
padahal kita ketahui bersama akta kelahiran dibutuhkan dalam proses pembuatan
ijazah saat mereka lulus nanti. Lebih dari itu, akta kelahiran merupakan dokumen
tertulis yang sah yang menunjukkan status kewarganegaraan seseorang.
Dampak yang muncul
akibat hal ini adalah tidak adanya keinginan yang besar dari siswa-siswi di SD
Cilubang 4 untuk memiliki impian yang besar. Pernah suatu ketika di sela-sela kegiatan
belajar mengajar, para siswa di SD Cilubang 4 ditanya mengenai cita-cita
mereka. Beberapa anak menjawab ingin menjadi seorang dokter, pilot, presiden,
dan guru. Itu merupakan jawaban yang umumnya akan selalu muncul jika ditanyakan
kepada seorang anak. Kejadian yang cukup menggelitik –sekaligus menjadi ironi- hati saya adalah ada beberapa anak yang
memiliki cita-cita yang ‘berbeda’, ada yang ingin menjadi supir angkot, petani,
dan lebih parah menjadi seorang pemulung. Saya sama sekali tidak bermaksud
merendahkan beberapa profesi tersebut, namun bukankah sejak kecil kita –pada
umumnya- telah ter-mindset untuk
memiliki cita-cita yang hebat? Ternyata ‘hukum’ ini tidak sepenuhnya berlaku di
tempat saya mengajar.
| Belajar dari kegiatan Mengajar |
Mari kita berpikir
lebih jauh lagi, contoh-contoh yang saya ceritakan diatas hanyalah sebagian
kecil potret miring tentang dunia pendidikan di Indonesia. Ingat, wilayah Desa
Sukadamai termasuk kedalam Wilayah Bogor, Jawa Barat, yang menurut saya
termasuk ke dalam wilayah yang modern dan tidak kalah dengan wilayah ibukota.
Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang ada di pedalaman?
Saudara-saudara kita yang hidupnya masih bersuku-suku dan sangat jauh dari
pusat perkotaan? Permasalahan pendidikan yang muncul pasti akan semakin
kompleks.
Hal-hal seperti ini
sudah sepatutnya menjadi pemikiran kita semua, khususnya bagi pihak pemerintah
dan kalangan akademisi. Pemerataan pendidikan perlu diterapkan hingga ke
seluruh pelosok negeri ini, tanpa terkecuali! Program Wajib Belajar 9 tahun
yang selama ini dicanangkan perlu ditinjau kembali kenyataannya di lapangan.
Penyediaan sekolah gratis perlu didukung dengan akses jalan yang memadai untuk
mencapai sekolah tersebut, sebab masih banyak saudara-saudara kita yang harus
menempuh puluhan kilometer untuk dapat bersekolah, bahkan kita ingat kasus
terakhir di Garut, ada para siswa yang harus bergelantungan melewati jembatan
untuk mencapai sekolahnya yang menjadi bahan perbincangan dunia internasional.
Bagi kalangan akademisi khususnya perguruan tinggi, peran pengabdian masyarakat yang merupakan salah satu tri dharma perguruan tinggi perlu direalisasikan dengan mengadakan program-program turun desa, pembinaan desa, pengabdian, bimas (bimbingan massal), dan peran pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting demi terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas yang nantinya ikut serta dalam pembangunan bangsa. Tentunya dengan diikuti peningkatan kesejahteraan setiap individu.
Bagi kalangan akademisi khususnya perguruan tinggi, peran pengabdian masyarakat yang merupakan salah satu tri dharma perguruan tinggi perlu direalisasikan dengan mengadakan program-program turun desa, pembinaan desa, pengabdian, bimas (bimbingan massal), dan peran pemberdayaan masyarakat. Hal ini penting demi terciptanya manusia Indonesia yang berkualitas yang nantinya ikut serta dalam pembangunan bangsa. Tentunya dengan diikuti peningkatan kesejahteraan setiap individu.
| Gedung sekolah ditopang oleh bambu |
Kembali ke kegiatan
saya di SD Cilubang 4. Kondisi yang menurut saya cukup memprihatinkan di tempat
itu merubah pandangan saya tentang definisi kata mengajar. Ada peran lain yang
dibutuhkan bagi siswa-siswi di tempat tersebut, bahkan memang peran ini
dibutuhkan bagi semua anak-anak dalam proses belajar mengajar. Mereka perlu
stimulan untuk membuat impian yang besar, cita-cita yang luar biasa, dan
harapan untuk terus berupaya mewujudkan impiannya. Hal inilah yang saya sebut
sebagai kata ‘mendidik’. Mendidik menurut saya mempunyai andil yang lebih besar
dari sekedar mengajar. Mendidik berarti berupaya masuk ke dalam pola pikir
anak-anak tersebut, memberikan pemahaman agar mereka senantiasa berbuat baik,
memberikan semangat untuk terus belajar, memberikan motivasi untuk tetap tegak
berjalan ditengah segala keterbatasan, dan memberikan keyakinan bahwa mereka
mampu menjadi orang yang besar..
Mendidik merupakan pekerjaan
yang mulia, yang hanya akan berhasil jika didasari dengan rasa keikhlasan.
Disinilah saya mengerti mengapa seorang guru dikatakan sebagai pahlawan tanpa
tanda jasa, karena pekerjaan mereka tidak hanya mengajar, namun mendidik
anak-anak yang telah mereka anggap sebagai anak kandung sendiri. Mendidik
dengan hati, itulah yang mereka kerjakan.
Ada banyak sekali kejadian-kejadian yang menginspirasi saya selama melaksanakan kegiatan di tempat ini, sampai saat ini pun saya beserta teman-teman saya masih tetap menjalankan program ini. Saya berharap program ini dapat memberikan manfaat, khususnya bagi saya pribadi yang telah belajar banyak tentang arti kesederhanaan dan keindahan makna kata saling berbagi.
Senin, 14 Mei 2012
Hidup dari Sampah
"Buanglah sampah pada tempatnya!" - NN
Setiap harinya tak kurang saya bisa menghasilkan 5 sampah, khususnya sampah plastik. Kesemua sampah tersebut, saya selalu berupaya membuangnya ke tempat sampah, dan setelah itu selesai. Saya tidak pernah berpikir apa kelanjutan nasib dari sampah yang telah saya buang itu.
Sabtu, 12 Mei 2012 saya mengunjungi Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga dalam rangka fieldtrip mata kuliah Ekonomi Sumberdaya Lahan. Saya sempat berpikir kenapa dinamakan Tempat Pembuangan Akhir mungkin tujuannya untuk memperhalus bagi orang yang mengucapkannya, daripada terang-terangan menyebut tempat pembuangan sampah. Saya tiba di lokasi sekitar pukul 13.40, siang itu matahari sedang bersemangat, malah menurut saya terlalu bersemangat membuat saya basah kuyup.
Kami memiliki waktu sekitar satu jam untuk berkeliling melihat-lihat tempat tersebut. Ada bau yang menyengat, ada lautan sampah, ada ratusan orang, dan saya perkirakan ada ribuan lalat di tempat tersebut. Betapa kacaunya tempat itu, bau busuk sangat kental walaupun memakai masker. Hal yang tidak terpikir oleh saya adalah ternyata ada orang-orang yang menggantungkan hidupnya dari sampah, barang yang boleh saya anggap tidak ada nilainya sama sekali. Saya yakin sebagian besar orang juga memiliki pendapat yang sama, atau bahkan kita memang beranggapan dan sama sekali tidak berpikir bahwa sampah itu berharga. Ternyata saya diberikan kesempatan untuk membuka mata saya lebar-lebar, mungkin bukan hanya penglihatan, tapi adalah kepedulian saya terhadap kondisi yang ada di TPA Galuga.
![]() |
| Galuga Sumber : Google |
Saya tidak akan berbicara tentang pengolahan sampah yang memang katanya dapat mendatangkan keuntungan dengan mengolah sampah yang ada untuk dijadikan barang komersil, tapi saya ingin menceritakan tentang hal yang simple, memungut sampah. Kalian tahu ada berapa orang yang setiap harinya tidak kenal panas atau hujan mereka harus bersaing dengan yang lain untuk mengumpulkan sampah sebanyak-banyaknya? Setidaknya di Galuga ada lebih dari 500 orang yang memunguti sampah. Apa saja yang mereka anggap berharga akan mereka ambil, plastik, potongan kaca (beling), baju bekas, sepatu bekas, bahkan saya mendengar seorang bapak yang mengatakan "Kalo masih ada potongan roti yang sekiranya masih bisa dimakan, ya saya makan dek..". Saya tidak akan berkomentar, cukup kita renungkan bersama..
![]() |
| Galuga Sumber : Google |
Kemudian saya pun berkesempatan berdialog dengan salah seorang yang pekerjaannya memunguti sampah - saya lupa namanya. Beliau seorang wanita, usianya saya perkirakan 50 tahun. Cukup lama saya berbicara dengan beliau, dari situ saya mendapat beberapa informasi. Sampah plastik yang mereka ambil ternyata hanya dihargai 300 rupiah/kg. Hanya 300 rupiah, Ibu tersebut malah menyebutnya dengan 300 perak. Saya langsung terbayang banyaknya sampah plastik yang harus diambil, sebab beliau mengambil sampah plastik, bukan batu kali yang beratnya bisa puluhan kg. Maksimal yang bisa ia dapatkan adalah 100 kg/hari, berarti sama dengan 30 ribu rupiah yang beliau kantongi. Tapi menurut saya untuk mengumpulkan sampah ratusan kilo maka harus dimulai dari pagi buta sampai larut malam. Sampah-sampah yang mereka ambil, mereka jual kepada 'bos', begitu mereka menyebutnya. Di tempat tersebut memang hanya ada satu bos, satu pusat penjualan sampah-sampah yang ada.
Fieldtrip berakhir sekitar pukul 15.15, tidak lama kami di tempat itu. Cukuplah kiranya kita, seenaknya dalam membuang sampah. Buat saya kegiatan fieldtrip kali ini punya arti yang mendalam, belum lagi melihat raut wajah ibu dan bapak yang setiap harinya harus berpanas-panasan di lautan sampah. Rata-rata mereka telah berusia lanjut, namun tidak ada pilihan lain agar mereka mampu bertahan hidup. Menghidupi dirinya dan keluarganya dari sampah, yang selama ini tak pernah kita pedulikan sama sekali.
Fieldtrip berakhir sekitar pukul 15.15, tidak lama kami di tempat itu. Cukuplah kiranya kita, seenaknya dalam membuang sampah. Buat saya kegiatan fieldtrip kali ini punya arti yang mendalam, belum lagi melihat raut wajah ibu dan bapak yang setiap harinya harus berpanas-panasan di lautan sampah. Rata-rata mereka telah berusia lanjut, namun tidak ada pilihan lain agar mereka mampu bertahan hidup. Menghidupi dirinya dan keluarganya dari sampah, yang selama ini tak pernah kita pedulikan sama sekali.
Langganan:
Postingan (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.


